AWAL MULANYA..........
GULINGKU SAYANG GULINGKU MALANG.......
Mulanya berawal ketika seorang anak yang mulai beranjak dewasa, yah kisaran umur 5 tahun. Saat itu sang anak harus menerima kenyataan bahwa ia dilahirkan di keluarga dengan kedua orang tua yang sibuk bekerja. Apalagi kedua orang tua sang anak adalah pasutri yang tergolong masih muda, dimana mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seiring dengan kebutuhan kedewasaan sang anak, ia membutuhkan teman untuk berinteraksi, diajak bermain, diajak bercerita, dan seseorang yang dapat memberikan perhatian ke sang anak. Sedangkan kedua orang tua sudah pergi disaat sang anak masih terlelap tidur, dan begitu pula saat kedua orang tuanya pulang kembali sang anak sudah terlelap tidur.
Sampailah pada batasnya, bahwa kebutuhan sang anak untuk mempunyai teman yang dapat diajak bercerita dan seseorang yang dapat memberikan perhatian akan perkembangan mental serta kejiwaan sang anak. Dan akhirnya sampailah pada suatu batas dimana kebutuhan sang anak tidak dapat dibendung lagi. Sang anak mempunyai kebiasaan menyendiri dalam sebuah kamar, dimana dalam kamar tersebut terhampar 4 buah kasur ukuran single dan kurang lebih 10 buah guling dan 10 buah bantal, yang semuanya terbuat dari bahan kulit kasur kualitas no 1, sehinggga permukaan kasur tersebut sangat halus walau tanpa sprei. Sang anak mempunyai kegemaran berguling2x diatas kasur dan bermain2x dengan para guling bantalnya. Dari yang hanya berguling2x dan bermain, lambat laun sang anak menemukan dua-tiga guling yang kemudian menjadi guling favoritnya, akhirnya jadilah sang guling2x tersebut menjadi teman berceritanya. Dari hanya sekedar permainan susun menyusun guling bantal, akhirnya sampailah pada permainan dimana sang anak menganggap bahwa sang kasur, guling dan bantal tersebut adalah sosok yang hidup, yang dapat diajak berinteraksi. Terkadang terlihat sang anak sedang asyik bercengkrama, dan berbicara baik dengan gulingnya, kasurnya, atau dengan bantalnya. Apapun yang dialami baik perasaan gembira maupun kesedihan sang anak tidak pernah diceritakan pada baik pada kedua orang tuanya maupun keseorang pembantu yang menjadi pengasuhnya, tapi dicurahkan dan diceritakan ke para sahabat di dunia mayanya. Walau sang anak memiliki seorang pengasuh, tapi kedekatannya tidak bisa disamakan kedekatannya dengan para kasur, guling, dan bantal yang telah menjadi sahabat di dunia mayanya. Hal itu tidaklah aneh karena sang pengasuh juga merangkap pembantu di rumah itu, sehingga tidak dapat memberikan perhatian yang maksimal kepada sang anak. Kedekatan sang anak pada guling, kasur dan bantal tersebut sudah melewati ambang batas mormal, dan hal itu tidak diperhatikan sama sekali baik oleh orang tua maupun pengasuhnya. Sang anak telah benar2x menganggap baik guling, kasur dan bantalnya tersebut adalah sosok yang hidup, yang bisa membuat perasaannya bahagia, nyaman, dan terlindungi.
Suatu hari sang anak mendapati 2 buah guling sabahatnya menghilang dari kamar tersebut. Perasaannya kalut, bingung, dan sedih karena kehilangan sahabatnya. Dengan perasaan sedih dia menceritakan perasaannya kepada para sahabatnya yang masih tersisa. Akhirnya dengan berat hati sang anak mengambil guling dari kamar sebelah untuk melengkapi formasi sahabat dunia mayanya. Yang lebih menyedihkan lagi keesokan harinya dia mendapati dua guling sahabatnya di jemuran baju dengan kondisi sudah terbelah menjadi sepotong kain persegi panjang, dan dalam keadaan basah. Sang anak hanya tercekat melihat pemandangan itu, dimana dia mendapati dua sahabatnya sudah tidak bernyawa lagi, karena sudah tidak berbentuk guling. Kemudian dia berlari ke atas, masuk kekamar yang berisi para sahabatnya dan kemudian menangis sejadi2xnya tetapi tanpa bersuara, sambil menceritakan nasib dua sahabatnya yang sudah dibelah dan sudah tak benyawa lagi. Mereka tenggelam dalam perasaan duka yang mendalam atas meninggalnya dua sahabat mereka.
Keesokan harinya sang anak memberanikan diri bertanya ke pengasuhnya, "Kenapa kok gulignya dibelah seperti itu ?"
Dengan ringannya dan tanpa dosa pengasuhnya menjawab, "Iya memang gulingnya sudah gepeng dan jelek makanya dibelah buat lap." Padahal setahu sang anak, guling tersebut belum jelek dan tidak gepeng, tapi kok dibelah juga dan dibuat kain lap. Dan memang kondisi guling tersebut tidak seburuk seperti kata pengasuhnya.
Sejak saat itulah hubungan persabahatan dunia maya sang anak dengan guling, kasur, dan bantal makin bertambah erat, bahkan semakin mendalam. Karena sang anak benar2x menganggap hanya merekalah sahabatnya dan yang menjadi tempat curahan hati sang anak. Tanpa disadari pula mulai tersemailah butir2x kebencian yang mendalam terhadap sang pengasuh, krn dianggap merenggut satu2xnya teman dalam kehidupannya.
Kebiasaan pengasuhnya tersebut ternyata terulang kembali, dimana suatu hari sang anak kembali kehilangan dua guling kesayangannya, dan kali sang anak sudah menduga kemana hilangnya dua guling kesayangannya tersebut. Ternyata memang benar, keesokan harinya, dua guling kesayangannya kembali tersampir dijemuran dengan keadaan sudah terbelah. Kepedihan dan kebencian sang anak menjadi semakin mendalam. Apalagi selang beberapa waktu kemudian terulang lagi untuk ke tiga kalinya.
Suatu hari sang pengasuh meminta bantal sang anak dengan alasan akan diperbaiki. Nah kali ini memang bantal si anak kondisinya sudah kurang layak pakai, karena sudah terlukis keindahan kepulauan seribu oleh karena keringat dengan campuran iler dan kondisi kapuknya yang sudah hancur sehingga terlihat sangat penyot. Tapi bagaimanapun bantal itu adalah benda kesayangan si anak. Tanpa mempedulikan rengekan dan isakan tangis sang anak si pengasuh tetap memaksa meminta bantal tersebut dan berjanji akan mengembalikannya bila sudah selesai diperbaiki. Jadilah si anak memakai bantal pengganti yang sudah pernah dipakai sehinggga tidak terlalu keras.
Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan sampai seminggu, setiap si anak meminta bantalnya, selalu dikatakan belum selesai diperbaiki. Sampai suatu hari si anak mendapati bantal kesayangannya tergeletak di lantai dapur dengan kondisi yang sangat kotor karena sudah menjadi lap. "Kok bantalku dibuat lap sih, katanya mau dibenerin ?" "Bukan, itu bukan bantalmu kok !" Tapi sang anak sudah mengenali bantal kesangannya, dan berlari ke kamar menumui para sahabatnya kemudian menangis tanpa suara.
Selang beberapa lama kemudian, sang pembantu meminta guling kesayangan si anak dengan alasan yang sama yaitu ingin diperbaiki. Terus terang memang kondisi guling kesayangan tersebut juga sudah sedikit tidak layak pakai. Dengan lukisan keindahan kepulauan Bali Lombok, yang terbuat dari kombinasi campuran keringat dan sedikit ompol, ditambah dengan adanya lubang2x dibeberapa bagian serta sudah penyot. Keharuman aroma gulingnya pun hanya si anak yang menyukainya. Dengan sedikit kemarahan si anak menolak perbaikan terhadap guling kesayangannya tersebut, karena sudah tahu bahwa bila guling tersebut diserahkan, maka gulingnya pun tidak akan kembali lagi padanya. Akhirnya dengan paksaan dan ancaman akan diadukan ke orang tua, pengasuhnya berhasil merebut guling sang anak, dan diganti dengan guling pengganti yang sudah pernah pakai. Terukirlah kembali kepiluan hati sang anak yang diikuti kebencian yang semakin tidak terukur. Ternyata guling tersebut bukan diperbaiki, melainkan tersangkut di kawat duri diatas tembok belakang rumah dengan kondisi yang memilukan bagi sang anak. Rupanya pengasuhnya tidak berniat memperbaiki atau menjadikannya kain lap, tapi membuangnya ke saluran air kotor dibelakang rumah, dan karena temboknya terlalu tinggi, tersangkutlah guling itu di kawat duri diatas tembok sewaktu mau dilempar kebelakang.
Melihat gulingnya robek tersangkut di kawat duri, sang anak marah sejadi2xnya kepada pengasuhnya, tapi pengasuhnya berdalih bahwa itu bukan gulingnya, melainkan guling tetangga yang dibuang, tetapi sang anak benar2x mengenali guling kesayangannya. Setiap hari melihat keluar jendela memandangi guling nasib kesayangannya dengan sedih. Guling kesayangannya terjemur terik matahari dan kehujanan. Sampai suatu hari ketika sang anak sedang memandangi gulingnya dengan sedih, terlihat pengasuhnya berusaha menarik guling yang tersangkut menggunakan tongkat dengan kaitan besi, breeekk.. guling itu robek terbelah dua, kapuknya terburai. Sebagian guling kesayangan tersebut terjatuh kebawah dan sebagian masih tersangkut di kawat berduri. Sang anak menangis menjerit2x tapi tidak dihiraukan oleh pengasuhnya yang sibuk untuk menarik sisa bagian guling yang masih tersangkut. Akhirnya si pengasuh berhasil menarik sisa sobekan gulingnya dan cepat2x membakarnya dibelakang rumah sambil disaksikan pemiliknya, si anak hanya bisa menangis melihat guling kesayangannya robek dan dibakar.
Puncaknya adalah ketika pengasuhnya meminta dengan paksa kasur kesayangannya, memang sudah agak penyot, dengan tambahan lukisan jajaran pulau yang terbuat dari kombinasi keringat dan sedikit ompol. Kali ini si pengasuh memanfaatkan saat sang anak ke sekolah (taman kanak2x). Saat pulang dan tidur siang si anak merasakan perbedaan pada kasur kesayangannya, dan ketika membuka sedikit spreinya, ternyata yang ditiduri bukan kasurnya, kasur kesayangannya sudah diganti. Sang anak hanya bisa menangis, dan kembali berbagi kesedihan dengan para guling, kasur, dan bantal sahabatnya.
Beberapa hari kemudian si anak mendapati kasur kesayangannya dijemuran sudah dibongkar, terbelah dan basah karena dicuci. Si anak pun menangis sambil memegangi, menciumi, dan mengelus2x kasur kesayangannya, sampai cukup lama. Ia benar2x sedih dan makin membenci pengasuhnya.
Sore harinya, ketika sang anak ingin mengambil kasur kesayangannya, ternyata kasur kesayangannya itu sudah tidak ada lagi dijemuran. Kali ini ia sudah tidak mau bertanya pada pengasuhnya tentang kasur kesayangannya.......
Suatu saat ketika sedang mencari sesuatu di meja gosokan, ia menemukan kasur kesayangnnya dalam bentuk potongan2x persegi panjang, cukup banyak jumlah potongannya, karena ukurannya tidak terlalu besar. Kembali ia menangis dengan sedih.
Akhirnya sang anak semakin sulit dipisahkan dari guling, kasur, dan bantal. Dan guling, kasur, dan bantal adalah benda berharga yang benar2x telah melekat dengan kehidupan sang anak. Si anak semakin menyayangi guling2x, kasur2x, dan bantal2xnya.............
Dan sang anak sering merasa iba dan sedih bila melihat kasur, guling atau bantal temannya yang di bongkar untuk di ganti kainnya, dibongkar kemudian dibuang atau dibuat kain lap, kain pel, atau dibuang kemudian dibakar......
Selasa, Agustus 04, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar